Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat Opini SINDOnews , Kamis 15 Desember 2011)
Terdapat pandangan yang mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem politik terbaik yang dapat menciptakan harmoni, baik di dalam ataupun di luar negeri. Dalam kasus Myanmar, pandangan ini terasa sangat relevan.
Sejarah politik Myanmar memang pernah mencatat bahwa kemenangan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) pimpinan Aung San Suu Kyi pada pemilihan umum 1990 tidak diakui, dan junta militer lalu mengambil alih kekuasaan di Myanmar. Bahkan, pimpinan LND Aung San Suu Kyi, di tahan. Dampaknya adalah, Myanmar tidak hanya terjerumus dalam sistem pemerintahan yang otoriter, tapi juga mendapatkan sanksi politik dan ekonomi dari komunitas internasional, khususnya dari Amerika Serikat.
Tapi selang 20 tahun kemudian, barulah Myanmar mencatat sejarah baru dengan menggelar pemilihan umum yang demokratis pada tahun 2010. Terpilihnya rezim baru yang demokratis, Thein Sein, pada pemilu tersebut telah menghantarkan Myanmar pada perubahan-perubahan yang berarti, seperti dibebaskannya tokoh penting LND Aung San Suu Kyi dan terpilihnya Myanmar sebagai ketua ASEAN pada 2014. Dalam konteks itu, Myanmar rupanya telah berhasil menciptakan apa yang penulis sebut sebagai harmoni demokrasi, baik di dalam ataupun di luar negeri.
Harmoni di Dalam Negeri
Alasan mengapa demokrasi dapat menciptakan harmoni di dalam negeri adalah karena rakyat ditempatkan sebagai poros politik. Tidak hanya dalam hal memilih pemimpin, tapi juga dalam hal kontrol terhadap pemimpin yang berkuasa. Untuk itu, dalam demokrasi, siapapun pemimpin yang berkuasa nantinya akan menjadi berhati-hati dalam membuat keputusan menyangkut kebijakan: apakah merugikan rakyat atau tidak. Read the rest of this entry »














