Archive for July, 2009

Thucydides, Machiavelli, Hobbes: Meninjau Kembali Pemikiran Bapak Realisme Politik

July 16, 2009

Speakers

Oleh: Asrudin

Pernah dimuat dalam SIKLUS: Jurnal Kajian Hubungan Internasional, Vol. 2, No.1, Mei 2007, h. 27-48

Abstract

Thucydides, Machiavelli, and Hobbes are often describe as fathers of the realist theory of international relations. This reputation as such emanates from the classic postulates and lessons of interstate behavior. Although there are many different types of political realism, its most general tenets may be summarize as follows: (i) The international system is composed of separate, independent states all competing for power while maintaining their autonomy. (ii) The nature of the international system is anarchical. Based on this principle, realists have claimed that states are motivated by the self-help principle because each state responsible for its own security in teh nation-system. Hence a security dilemma arises because states are driven to acquire more and more power to escape the power of others. (iii) States will, therefore, always act accordingto what they perceive to be in their own self-interest. In this context, interest is defined in terms of power and power is defined as anything that establishes and maintains the control of man over man.

History-of-the-Peloponnesian- Hobbes_Leviathan

The Prince

Pendahuluan

Tak diragukan lagi, Thucydides, Nicholo Machiavelli, dan Thomas Hobbes adalah “Bapak Realisme Politik” di era klasik yang telah memainkan peran penting dalam mengembangkan teori hubungan internasional saat ini, khususnya yang berperspektif realisme politik. Pengaruh mereka kian terasa ketika pendekatan realisme politik berhasil mendominasi disiplin Ilmu HI (Hubungan Internasional) semasa Perang Dingin berlangsung. Namun,  sayangnya, para penstudi HI dan sarjana HI seringkali mengalamatkan keberhasilan pendekatan realisme politik dalam mendominasi disiplin ilmu HI dengan pemikiran penteori realis kontemporer seperti Edward H. Carr,[1] Hans J. Morgenthau,[2] dan Kenneth Waltz dengan pendekatan neo-realisme-nya.[3] Bahkan Hans J. Morgenthau oleh para ilmuwan HI dinobatkan sebagai penerima “Gelar Bapak Politik Internasional”. Padahal kalau kita tinjau kembali ketiga karya panteori realis kontemporer di atas, kesemuanya bersandar pada pemikiran Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes untuk dapat menggambarkan seperti apa realitas politik internasional itu berjalan.

Minimnya pengetahuan penstudi Hubungan Internasional tentang ketiga bapak realisme politik tersebut disebabkan karena para pengajar Studi Hubungan Internasional (SHI) seringkali memfokuskan bahasan studinya dengan pemikiran realis kontemporer (Edward H. Carr, Hans J. Morgenthau, dan Kenneth Waltz). Jarang para pengajar SHI, khususnya di Indonesia, yang paham dan mau menjelaskan pengertian realisme politik melalui para penggagas awalnya (Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes). Karena itu, dan untuk memperkaya pengetahuan kita mengenai realisme politik, tulisan ini akan meninjau kembali pemikiran Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes. Untuk memudahkan pembahasan, tulisan ini akan diawali dengan menjelaskan asumsi dasar dari realisme politik, kemudian akan dilanjutkan dengan mengupas secara sistematik asumsi realisme politik mulai dari: Thucydides-Machiavelli-Hobbes. (more…)