Tahun lalu (2008) kita dikejutkan oleh masuknya nama Anies Baswedan sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh versi majalah Foreign Policy (FP). Tahun ini salah seorang pemikir Indonesia kembali masuk dalam 100 pemikir paling berpengaruh di dunia. Pemikir tersebut adalah Rizal Sukma, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS). Masuknya nama Rizal Sukma dalam top 100 pemikir majalah Foreign Policy tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Mengapa, karena dari dulu ilmuwan Indonesia hanya mampu menjadi pengkonsumsi pemikiran dari para ilmuwan Barat, kali ini sumbangan pemikiran dari ilmuwan Indonesia juga mampu menjadi model pemikiran yang diakui di Barat.
Menurut Majalah Foreign Policy, Doktor dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris ini telah berhasil mendorong cara pandang baru yang radikal mengenai peran Indonesia di dunia.
Rizal Sukma, menurut Foreign Policy, adalah teoritisi terkemuka dalam soal hubungan internasional khususnya kajian yang mengulas tentang hubungan antara Islam dan negara, serta mendorng peran global negerinya Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar, untuk ikut andil berperan dalam percaturan politik internasional.
Dalam buku “Islam in Indonesian Foreign Policy: Domestic Weakness and the Dilemma of Dual Identity” yang diterbitkan oleh penerbit bergengsi Routledge, Rizal Sukma membahas pergulatan antara identitas rakyat Indonesia dengan lembaga-lembaga negara yang hampir seluruhnya sekuler sejak kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Menariknya adalah, Rizal Sukma dalam bukunya tersebut berhasil mengintegrasikan 2 ideologi yang sebetulnya bertentangan satu sama lain yaitu antara Islam (yang agamis) dan demokrasi (yang sekuler). Atas dasar pemikirannya tersebut Foreign Policy menyatakan, “Dengan Indonesia yang masih bergulat dengan warisan kekuasaan diktator Suharto selama 32 tahun, pemikiran-pemikiran Sukma membantu memetakan satu arah yang dengan kuat mengintegrasikan Indonesia dalam dunia, dan akhirnya mencampakkan omong kosong bahwa Islam dan demokrasi tidak bisa menyatu,”
Karena itu, tidak mengherankan apabila majalah Foreign Policy pada 30 November 2009 akhirnya memasukkan nama Rizal Sukma ke dalam peringkat ke-92 dari daftar top 100 pemikir paling berpengaruh di dunia, dan disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke yang ditempatkan pada urutan pertama, Presiden AS Barack Obama di posisi dua, dan Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, pada posisi tiga.
Tokoh-tokoh besar dunia lainnya yang di sejajarkan dengan Rizal Sukma adalah suami istri Bill dan Hillary Clinton, ulama Mesir Sayyid Imam al-Sharif yang adalah mantan pemimpin organisasi garis keras Al Jihad dan eks teman seperjuangan dari orang nomor dua di Alqaeda (Ayman Al-Zawahiri), Bill Gates, Paus Benediktus XVI, sosiobilogis dan evolusionis darwinian Richard Dawkins, sastrawan Vaclav Havel, ekonom Joseph Stiglitz, dan pejuang HAM Aung San Suu Kyi, Kemudian mantan sekjen PBB Kofi Annan, tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, George Soros, pakar keuangan mikro Muhammad Yunus, Henry Kissinger, sosiolog Francis Fukuyama, PM Inggris Gordon Brown, pakar perbandingan agama Karen Armstrong dan sejarawan Paul Kennedy.
Sungguh sebuah prestasi luar biasa. Selamat untuk Bapak Rizal Sukma.
Lampiran Top 100 Pemikir Versi Majalah Foreign Policy (2009) (more…)


