
Oleh Asrudin
Pernah dipublikasikan dalam Perspektif: Fisip Journal of Interdisiplinary Studies, Vol.5, No.2, April 2007, hlm.69-83
Pendahuluan
Dipenghujung abad 20, peta politik internasional mengalami perubahan dramatis. Upaya merebut status hegemonik dalam fora internasional (kita mengenalnya dengan istilah cold war) di antara dua kekuatan adidaya (Uni Soviet dan Amerika Serikat) akhirnya terjawab sudah. Amerika Serikat menang dan Uni Soviet runtuh pada 1989. Berbagai intelektual kelas dunia terkejut akan situasi tersebut, karena intelektual kala itu banyak yang menilai bahwa Perang Dingin antara Blok Barat yang kapitalistis di bawah pimpinan A.S. dan Blok Timur yang komunis di bawah pimpinan Uni Soviet akan berjalan secara seimbang karena masing-masing blok mampu mengembangkan kemampuan militer, termasuk senjata nuklir, untuk melakukan tindakan detterence. Dengan demikian politik internasional selama Perang Dingin berlangsung berjalan dalam suatu situasi yang anarkis. Inilah cara pandang yang kita kenal dalam literatur ilmu hubungan internasional sebagai realisme politik.
Namun, persoalan utama pada 1989 (pasca Perang Dingin) sangatlah berbeda. Teori realisme telah digantikan oleh teori endisme.[1] Unsur utama endisme adalah bahwa hal-hal yang buruk telah berakhir. Menurut Samuel Huntington, Endisme menyatakan dirinya paling tidak dalam tiga cara. Pertama, endisme mengelu-elukan akhir Perang Dingin; Kedua, endisme menyatakan dirinya dalam proposisi yang lebih akademik dan umum yaitu bahwa perang di antara negara-negara bangsa, atau setidaknya di antara negara-negara bangsa jenis tertentu, telah berakhir. Banyak akademisi menunjuk pada tidak adanya perang di antara negara-negara demokratis. Ketiga, adalah klaim endisme yang paling ekstrem yaitu sebuah frase yang diajukan oleh Francis Fukuyama tentang berakhirnya sejarah. Fukuyama merayakan bukan saja akhir Perang Dingin ataupun akhir perang di antara negara-negara demokratis, melainkan juga ‘akhir sejarah’.[2] Dengan pola pikir seperti ini, politik internasional akan berjalan relatif aman dan damai. Kita tidak akan lagi dikejutkan dengan tragedi-tragedi kemanusiaan yang diakibatkan oleh perang. Realisme akan menjadi teori usang dan bagi siapapun yang berpikir politik internasional di era pasca Perang Dingin berlangsung anarkis adalah sesat pikir.
Munculnya cara pandang yang optimistik tentang politik internasional dari teori endisme ini memunculkan beberapa pertanyaan penting yang mesti dijawab, terutama oleh teoretisi realisme, yaitu, “benarkah realisme akan menemui ajalnya sebagai sebuah teori? Benarkah, bahwa berakhir Perang Dingin maka berakhir pula persaingan di antara kekuatan-kekuatan besar dan apa yang dapat realisme katakan tentang hal ini dimasa yang akan datang? Artikel ini ditulis untuk menjawab seputar pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Realisme Sebagai Paradigma Dominan?
Seperti kita ketahui bersama, realisme merupakan perspektif teori yang paling diakui dalam Hubungan Internasional. Realisme telah mendominasi Hubungan Internasional pada berbagai tingkatan, mulai dari para mahasiswa, sarjana, dan para ilmuwan-ilmuwan hubungan internasional. Selama 40 tahun, para sarjana dan praktisi hubungan internasional telah berpikir dan bertindak dalam istilah yang simplistic, tapi sangat bermanfaat dalam menjelaskan masalah-masalah internasional, yaitu paradigma Perang Dingin. Perang Dingin telah menjelaskan sejumlah fenomena yang lebih penting dibanding pesaingnya (baca: endisme); ia telah menjadi titik tolak (starting point) yang sangat dibutuhkan dalam membahas masalah-masalah internasional; ia hampir diterima secara universal; dan membentuk pikiran para penstudi HI tentang politik dunia selam dua generasi. (more…)

