Archive for the ‘Asrudian Column’ Category

Membangun Ensiklopedia Hubungan Internasional (HI) Melalui Wikipedia

06/01/2010

Oleh Asrudin

Imagine a world in which every single person on the planet has free access to the sum of all human knowledge.”

— Jimmy Wales, Pendiri Wikipedia

Ini adalah pesan singkat Jimmy Wales, dalam surat ringkasnya di wikipedia. Wikipedia merupakan salah satu dari 10 produk kerja (1. Wikipedia, 2. Wiktionary, 3. Wikiquote, 4. Wikibooks, 5. Wikisource, 6. Wikispecies, 7. Wikinews, 8. Wikiversity, 9. Wikimedia Commons, dan 10. MediaWiki) Wikimedia Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2003, yang dioperasikan untuk mengembangkan, memelihara, dan melindungi Wikipedia. Dengan sepuluh juta dolar AS setahun dan dengan staf yang kurang dari 35 orang, organisasi ini telah berhasil menjadikan wikipedia sebagai situs kelima terpopuler di seluruh dunia.

Melalui Wikimedia Foundation, Wales bermimpi bahwa suatu saat nanti seluruh umat manusia akan bebas mendapatkan pengetahuan secara gratis melalui situs wikipedia.

Wales telah meminta dukungan kepada kita semua untuk ikut berkontribusi memberikan sumbangan pemikiran terhadap Wikipedia.

Sejak Wikipedia dibentuk pada tahun 2001 hingga saat ini, Wales terkagum-kagum ketika melihat ratusan ribu relawan bergabung bersama dengannya untuk membangun sebuah ensiklopedia terbesar dalam sejarah umat manusia.

Penting untuk dicatat bahwa situs ini dibangun oleh komunitas, ditulis dan didanai sepenuhnya oleh orang-orang yang perduli kepada akses informasi ilmu pengetahuan. Tercatat lebih dari 340 juta orang telah menggunakan Wikipedia setiap bulannya (hampir sepertiga dari seluruh populasi dunia yang memiliki akses ke Internet). (more…)

Pesan Perdamaian di Tahun 2010

01/01/2010

“Sejarah perang adalah setua sejarah keberadaan manusia itu sendiri. Dari tahun ke tahun, tragedi kemanusiaan melanda dunia ini. Lihat bagaimana Thucydides menggambarkan Perang Pelloponnesia; Perhatikan bagaimana Karen Amstrong membingkai Perang Salib; Camkan bagaimana Edward Hallett “Ted” Carr mengambarkan Krisis 20 tahun di Eropa; Hitunglah berapa banyak perang dan penderitaan yang diakibatkan dan,  Bayangkan kehancuran manakala kita berhenti mengupayakan perdamaian!

Saudaraku, sambutlah hari-hari baru 2010 dengan harapan! Resapi nurani dengan pesan perdamaian !”

(Asrudin & Nila Ayu)

A piece of peace from AngelRays :

“Let us all remember

that God created

this planet

that we call earth”

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Reaching out to others

Trying to understand

Where we have gone wrong

How have we treated others

 

We are from one source

We all need one another to make it last

Why do we fuss and fume

When peace is what we ask

 

Peaceful tranquility

Is not a poetic thing

It is the only way

That we can live together in this place

 

Understand that we are different

We do not have to agree

Just let others live their lives

In sweet harmony

 

It is not right

For us to try to hate

We are all created equal

 

Equal does not mean the same

It only means… we try

To give our utmost love to all

If we want this world to survive.

 

Be kind and understanding

Stop trying to make others learn

What is right for me, my friend

Might be what brings you harm.

 

Put the weapons down

Let us strive to harmonize

Men, women, children

All created equal in God Eyes.

 

Believe with all the others

Believe like never before

See goodness in all countries

If we want our planet strong

                  

Rizal Sukma Masuk Daftar Top 100 Pemikir Dunia Paling Berpengaruh (2009) versi majalah Foreign Policy (FP)

16/12/2009

Tahun lalu (2008) kita dikejutkan oleh masuknya nama Anies Baswedan sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh versi majalah Foreign Policy (FP). Tahun ini salah seorang pemikir Indonesia kembali masuk dalam 100 pemikir paling berpengaruh di dunia. Pemikir tersebut adalah Rizal Sukma, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS).  Masuknya nama Rizal Sukma dalam top 100 pemikir majalah Foreign Policy tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Mengapa, karena dari dulu ilmuwan Indonesia hanya mampu menjadi pengkonsumsi pemikiran dari para ilmuwan Barat, kali ini sumbangan pemikiran dari ilmuwan Indonesia juga mampu menjadi model pemikiran yang diakui di Barat.

Menurut Majalah Foreign Policy, Doktor dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris ini telah berhasil mendorong cara pandang baru yang radikal mengenai peran Indonesia di dunia.

Rizal Sukma, menurut Foreign Policy, adalah teoritisi terkemuka dalam soal hubungan internasional khususnya kajian yang mengulas tentang hubungan antara Islam dan negara, serta mendorng peran global negerinya Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar, untuk ikut andil berperan dalam percaturan politik internasional.

Dalam buku “Islam in Indonesian Foreign Policy: Domestic Weakness and the Dilemma of Dual Identity” yang diterbitkan oleh penerbit bergengsi Routledge, Rizal Sukma membahas pergulatan antara identitas rakyat Indonesia dengan lembaga-lembaga negara yang hampir seluruhnya sekuler sejak kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Menariknya adalah, Rizal Sukma dalam bukunya tersebut berhasil mengintegrasikan 2 ideologi yang sebetulnya bertentangan satu sama lain yaitu antara Islam (yang agamis) dan demokrasi (yang sekuler). Atas dasar pemikirannya tersebut Foreign Policy menyatakan, “Dengan Indonesia yang masih bergulat dengan warisan kekuasaan diktator Suharto selama 32 tahun, pemikiran-pemikiran Sukma membantu memetakan satu arah yang dengan kuat mengintegrasikan Indonesia dalam dunia, dan akhirnya mencampakkan omong kosong bahwa Islam dan demokrasi tidak bisa menyatu,”

Karena itu, tidak mengherankan apabila majalah Foreign Policy pada 30 November 2009 akhirnya memasukkan nama Rizal Sukma ke dalam peringkat ke-92 dari daftar top 100 pemikir paling berpengaruh di dunia, dan disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke yang ditempatkan pada urutan pertama, Presiden AS Barack Obama di posisi dua, dan Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, pada posisi tiga.

Tokoh-tokoh besar dunia lainnya yang di sejajarkan dengan Rizal Sukma adalah suami istri Bill dan Hillary Clinton, ulama Mesir Sayyid Imam al-Sharif yang adalah mantan pemimpin organisasi garis keras Al Jihad dan eks teman seperjuangan dari orang nomor dua di Alqaeda (Ayman Al-Zawahiri), Bill Gates, Paus Benediktus XVI, sosiobilogis dan evolusionis darwinian Richard Dawkins, sastrawan Vaclav Havel, ekonom Joseph Stiglitz, dan pejuang HAM Aung San Suu Kyi, Kemudian mantan sekjen PBB Kofi Annan, tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, George Soros, pakar keuangan mikro Muhammad Yunus, Henry Kissinger, sosiolog Francis Fukuyama, PM Inggris Gordon Brown, pakar perbandingan agama Karen Armstrong dan sejarawan Paul Kennedy.

Sungguh sebuah prestasi luar biasa. Selamat untuk Bapak Rizal Sukma.

Lampiran Top 100 Pemikir Versi Majalah Foreign Policy (2009) (more…)

Memahami Arthasastra Kautilya dalam Hubungan Internasional

26/11/2009

Oleh Asrudin

Pernah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (Parahyangan Center for International Studies), Vol.5, No.2, September 2009, hlm.13-25

Abstract

Authored by Kautilya in 300 BCE the Arthasastra was written as a “science of politics”.  As the key advisor to the Indian king Chandragupta, Kautilya offered the Arthasastra as discussions on six-fold policy, war and world conqueror. Kautilya’s desire was for his king to conquer the world, through teachings of “how to defeat his enemies and rule on behalf of the general good”.  As opposed to the idealism of Plato, Kautilya’s Arthasastra is typically classified as a book on political realism. This article focused on three main analysis: six fold-policy, war and world conqueror.

 

Pendahuluan

Dapat dikatakan bahwa hanya sedikit penstudi Hubungan Internasional (HI) di Indonesia yang mengenal buku Arthasastra Kautilya dengan baik. Bahkan nyaris tidak ada buku teks HI berbahasa Indonesia yang menyinggung Arthasastra Kautilya dalam fokus bahasannya. Kebanyakan buku teks HI di Indonesia hanya berfokus pada kajian-kajian HI berperspektif Barat.[1] Andaikan terdapat bahasan menyoal Arthasastra Kautilya, hal itu hanya ada dalam studi Agama Hindu.  Karena buku Arthasastra yang ditulis oleh Kautilya merupakan salah satu referensi kitab Upaweda.[2]

I Wayan Suarjaya, Direktur Jenderal Departemen Agama untuk Bimbingan masyarakat Hindu dan Budha, dalam kata sambutan ketika diterbitkannya buku Arthasastra di Indonesia pada 2003 pernah menyatakan bahwa diterbitkannya buku ini ditujukan hanya bagi para mahasiswa agama Hindu,[3] dan tentunya bukan mahasiswa HI. Padahal kalau kita kaji secara mendalam, buku Arthasastra juga fokus pada kajian-kajian politik dan hubungan internasional. Pada buku ketujuh dan kesepuluh Arthasastra misalnya, Kautilya membahas tentang enam kebijakan politik luar negeri dan diskursus perang yang telah menjadi fokus analisis studi hubungan internasional.

Kautilya atau Canakya, dikenal juga dengan nama Vishnugupta,  adalah seorang menteri negara, ahli politik, tokoh agamawan (Brahmana), yang menulis karya agung Arthasastra. Arthasastra ditulis pada tahun 300 SM atau sekitar 2000 tahun silam dan telah disebut dalam banyak kitab-kitab klasik dan sastra Hindu (seperti Vishnu Purana, Kamandaka – Nitisara, Panchatantra, dll), namun baru ditemukan oleh Dr. Shamasastry, Director of Archeological Research in Mysore, India, dan kemudian dipublikasikan pada tahun 1905.  Sejak saat itu berbagai macam tulisan dan komentar muncul tentang karya tersebut. Arthasastra telah dipelajari dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti Jerman, Rusia, Malaya, Indonesia, dan sebagainya.[4]

Arthasastra ditulis Kautilya sebagai upaya untuk menghimbau para pemimpin bagaimana caranya mengelola negara. Dibagi menjadi 15 buku yg terangkum dalam 1 buku, Kautilya menjelaskan setidaknya 9 bidang keilmuan yang mesti diperhatikan oleh para pemimpin seperti politik-tata negara dan hubungan internasional, intelijen, kepemimpinan, ekonomi, hukum, filsafat, pengobatan (kesehatan), ilmu magis, dan metode ilmu. (more…)