Pernah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (Parahyangan Center for International Studies), Vol.5, No.2, September 2009, hlm.13-25
Abstract
Authored by Kautilya in 300 BCE the Arthasastra was written as a “science of politics”. As the key advisor to the Indian king Chandragupta, Kautilya offered the Arthasastra as discussions on six-fold policy, war and world conqueror. Kautilya’s desire was for his king to conquer the world, through teachings of “how to defeat his enemies and rule on behalf of the general good”. As opposed to the idealism of Plato, Kautilya’s Arthasastra is typically classified as a book on political realism. This article focused on three main analysis: six fold-policy, war and world conqueror.
Pendahuluan
Dapat dikatakan bahwa hanya sedikit penstudi Hubungan Internasional (HI) di Indonesia yang mengenal buku Arthasastra Kautilya dengan baik. Bahkan nyaris tidak ada buku teks HI berbahasa Indonesia yang menyinggung Arthasastra Kautilya dalam fokus bahasannya. Kebanyakan buku teks HI di Indonesia hanya berfokus pada kajian-kajian HI berperspektif Barat.[1] Andaikan terdapat bahasan menyoal Arthasastra Kautilya, hal itu hanya ada dalam studi Agama Hindu. Karena buku Arthasastra yang ditulis oleh Kautilya merupakan salah satu referensi kitab Upaweda.[2]
I Wayan Suarjaya, Direktur Jenderal Departemen Agama untuk Bimbingan masyarakat Hindu dan Budha, dalam kata sambutan ketika diterbitkannya buku Arthasastra di Indonesia pada 2003 pernah menyatakan bahwa diterbitkannya buku ini ditujukan hanya bagi para mahasiswa agama Hindu,[3] dan tentunya bukan mahasiswa HI. Padahal kalau kita kaji secara mendalam, buku Arthasastra juga fokus pada kajian-kajian politik dan hubungan internasional. Pada buku ketujuh dan kesepuluh Arthasastra misalnya, Kautilya membahas tentang enam kebijakan politik luar negeri dan diskursus perang yang telah menjadi fokus analisis studi hubungan internasional.
Kautilya atau Canakya, dikenal juga dengan nama Vishnugupta, adalah seorang menteri negara, ahli politik, tokoh agamawan (Brahmana), yang menulis karya agung Arthasastra. Arthasastra ditulis pada tahun 300 SM atau sekitar 2000 tahun silam dan telah disebut dalam banyak kitab-kitab klasik dan sastra Hindu (seperti Vishnu Purana, Kamandaka – Nitisara, Panchatantra, dll), namun baru ditemukan oleh Dr. Shamasastry, Director of Archeological Research in Mysore, India, dan kemudian dipublikasikan pada tahun 1905. Sejak saat itu berbagai macam tulisan dan komentar muncul tentang karya tersebut. Arthasastra telah dipelajari dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti Jerman, Rusia, Malaya, Indonesia, dan sebagainya.[4]
Arthasastra ditulis Kautilya sebagai upaya untuk menghimbau para pemimpin bagaimana caranya mengelola negara. Dibagi menjadi 15 buku yg terangkum dalam 1 buku, Kautilya menjelaskan setidaknya 9 bidang keilmuan yang mesti diperhatikan oleh para pemimpin seperti politik-tata negara dan hubungan internasional, intelijen, kepemimpinan, ekonomi, hukum, filsafat, pengobatan (kesehatan), ilmu magis, dan metode ilmu. (more…)









